Mentari dari Langit Tulip
Mentari
telah lama menghilang memberi waktu pada sang malam, bulan dan bintang tak
nampak, yang terasa hanya ada angin berhembus. Ketika aku memutuskan menulis
ini, maka secara pasti alam bawah sadarku bergerak, membuka kembali album
ingatanku 11 tahun yang lalu. Seperti saat membuka album usang, maka foto di
dalamnya akan terlihat sedikit memudar, namun cukup untuk
menggambarkan sebuah suasana.
Senin,
29 September 2006, itu adalah hari pertama aku menginjakkan kaki di tanah
Pondok Modern, Jawa Timur. Di hari itu pula pertama kalinya aku bertemu teman kecil dari salah satu
sudut pulau Sumatra.
Aku
datang bersama kedua orangtua dan ketiga adikku. Kalian tahu aku adalah anak
pertama yang seharusnya bersikap dewasa, tapi hari itu aku menangis seperti
bayi. Ditengah tangisanku, aku melihatnya turun dari bis umum yang bertulisan “Padang–Jawa
Timur”. Menggeret sendiri kopernya yang
besar dan menenteng kardus yang kurasa cukup berat. Aku
yakin dia lebih kecil dariku, wajahnya kucel seperti baru bangun tidur, “lihat
dia berhasil membawa koper dan dua kardus itu,” ucapku dalam hati. Saat itu
tidak ada yang membantunya, tidak juga diriku.
Kembali
tentang diriku, kalian tahu mengapa aku menangis? Karena masuk Pondok tidak ada dalam list impian
hidupku, bisa dikatakan aku terpaksa masuk kesana. Orangtua yang memaksaku. Aku
lelah menangis dan lelah mendengar nasehat ayah yang tidak ada habisnya, lebih
baik aku masuk untuk menyelesaikan proses pendaftaran, setelah tiga jam
mengantri sana-sini, aku mendapatkan nama dan nomer kamarku.
“Ahh
akhirnya ketemu juga kamarnya.” Dengan tubuh penuh keringat, aku lihat daftar nama yang tertempel di depan
pintu, “apa! satu kamar 20 orang?” teriakku saat itu, kemudian kembali menangis.
Mengenai anak yang gigih berperawakan kecil, ternyata kami di kamar yang sama. Aku tahu namanya saat perkenal anggota kamar. Sebut saja Icha. Seperti itu kami biasa memanggilnya, dan dia datang ke pondok itu seorang diri. Aku berpikir keras, bagaimana mungkin dia berani? dia masih anak umur belasan sepertiku dan baru lulus Sekolah Dasar beberapa hari yang lalu. Itulah Icha yang seterusnya menjadi teman baikku.
Aku
bukanlah anak yang cepat dalam mengerti dan menghafal pelajaran, tapi Icha dapat melahap
semua hafalan dengan sangat cepat. Saat masa ujian aku akan selalu mengantuk
dan tertidur saat belajar bebas, dan Icha akan menariku berjalan keliling
pondok agar aku tetap terjaga. Dia akan menjelaskan lagi pelajaran yang tidak
aku mengerti. Pernah suatu hari dia menyiramku dengan air, karena aku tidur
saat dia menjelaskan pelajaran Tauhid.
Aku rasa itu salah satu alasan aku bisa tetap naik kelas, walaupun dengan nilai
yang pas-pasan.
akhir
Enam
tahun di Pondok, aku bukanlah si cengeng Almira Tysha asal Surabaya yang dulu
pernah menangis seperti bayi. Aku saat itu telah menjadi santriwati Pondok
Modern yang dewasa, yang sudah bisa menata diriku sendiri bahkan sudah bisa
membujuk adik-adik kelas satu yang menangis saat ditinggal orang tuanya, (aku
tersenyum setiap kali aku melihat mereka).
Kring..Kring..suara
bell sepeda, aku menoleh kearah sumber suara, Ahh, dia Icha. Dia dipercayai
oleh bapak pengasuh menjadi ketua panitia penerimaan santriwati baru dan sedang menegur santriwati yang melanggar
aturan. Sebelumnya dia dipercaya menjadi ketua bagian Pramuka Pusat Pondok. kau
tahu itu adalah jabatan yang tinggi
apabila kau tinggal di Pondokku, tak jarang dia berdiri didepan seluruh angkatanku
yang berjumlah 300 orang. Bahkan terkadang berdiri di depan kumpulan angkatan
lain. Aku ingat Icha dikenal oleh seluruh santriwati pondok, bahkan semua guru
mengenalnya. Itulah Icha, temanku yang lagi-lagi ku bilang “hebat”.
Ujian
akhir kelas enam, bagiku adalah ujian tersulit sepanjang masa. Bayangkan, Kami harus menghadapi ujian yang materinya
diulang dari kelas 1 SMP sampai kelas 3 SMA. Aku dan teman satu angkatan ditempatakan
disatu gedung yang sama, kami menyebutnya karantina.
Kata Ustadzah, “ biar bisa fokus belajar”.
Waktu
itu Malam Jum’at, besoknya hari libur. Karena besoknya libur teman-teman akan
melakukan kegiatan bebas selai belajar, ada rombongan yang baru pulang dari
dapur umum dengan segelas susu ditangan, ada yang tertidur pulas di atas lantai
berbantal buku pelajaran. Dan banyak yang seperti aku, Icha dan Anis teman
sekelasku, yang duduk di tangga depan kamar sambil merendam kaki dalam ember yang
sudah diisi dengan air hangat. Aku ingat saat itu kami membicarakan Universitas
yang akan kami incar setelah kelulusan.
“Aku
sih mau ke Jogja, di Universitas apa aja
yang penting di Jogja, hehe” kata Icha.
“Disuruh
orang tua kuliah di Malang nih,” ungkap Anis. “Kata ayah biar gak jauh-jauh
lagi dari rumah,” jelasnya.
“Aku
sih kayaknya juga harus balik ke Surabaya deh, itu ibu minta ditemenin,
sekalian bantu rawat adik-adik,” jelasku.
“Kamu
gak kuliah di Padang Cha? Gak kangen apa?” tanyaku. “Kamu kan udah enam tahun
gak pulang Cha, liburan gak pulang dan hanya dijenguk saat kita kenaikan kelas
lima tahun lalu,” tambahku.
Saat
itu dengan mantap dia menjawab, “enggak Mir, masa udah enam tahun merantau di
Jawa, terus kuliah balik lagi ke Padang? Aku ingin kembali ke Padang sebagai
orang sukses dari prantauan,” tegasnya sambil tersenyum. Dan suatu hari nanti
aku akan ke Belanda ucapnya sambil tersenyum.
Aku
dan Anis hanya mengangguk paham, kami mengerti dia memang berbeda. Hatinya
keras dan cita-citanya tinggi, selama di pondok enak tahun Icha hanya dijenguk
satu kali dan selalu tidak pulang setiap kali libur semester. Terkadang dia
ikut pulang ke Surabaya bersamaku. Pernah aku tanya kenapa tidak pulang ke
Padang dan jawabanya cukup logis dan kuat, “sayang uangnya Mir, bapak dan Ibu sudah
banyak negluarin uang buat aku dan adikku sekolah”.
Sepertinya
langit mendengarkan percakapan kami malam itu, aku diterima di Universitas Swasta
Surabaya, Anis kembali ke Malang dan Icha diterima di salah satu Universitas di
Yogyakarta.
Sekian
tahun telah berlalu dari saat itu, saat ini aku sedang menempu S2 di Amsterdam.
Aku ingat janji kami sebulan sebelum Icha wisuda lima tahun yang lalu. “Mir,
kita taruhan ya siapa yang bisa sampai ke Eropa duluan, aku juga udah masukin
berkas pengajuan beasiswa S2 ke negara
Belanda loh. Hahaha,” ungkapnya di telepon dengan semangat. “Oke, siapa takut,”
jawabku mantap.
Lihat,
saat ini Icha tidak di Belanda ataupun tidak di titik manapun benua Eropa. Dia
berada di tempat lain yang bahkan jauh
lebih indah dari negara Tulip ini.
Icha
telah kembali kepada Maha Cipta. Ia mengalami kecelakaan pesawat lima tahun lalu,
saat ingin kembali ke Padang membawa ijazah S1-nya yang bergelar cumlaude dan surat panggilan interview
S2 ke Belanda. Sehari setelah wisudanya, itulah terakhir aku bercakap dengan
Icha. Aku selalu ingat teriakannya sesaat sebelum masuk pintu bandara, “Mir, Semoga
sukses program dietnya. Sampai ketemu lagi”. Ucapnya sambil melambaikan tangan.
Kring..kring...alaram-ku berbunyi. “ahh sudah Subuh rupanya”. Sambil berjalan
menuju kamar mandi untuk wudhu, dalam diam hati-ku berucap, “aku bahkan
tidak sempat mengucapkan terimakasih, benar-benar teman yang payah”.
Terimakasih
Icha. Terimakasih telah menjadi temanku.
Komentar
Posting Komentar