Gue yang Terlalu Acuh
Hari
itu gue diingatkan kembali bahwa tidak semua perempuan hidup dalam
keberuntungan seperti gue.
Sebagai
karyawan yang kerjaan utamanya berfokus pada media branding, beberapa minggu
lalu gue dan lima teman tim media lainnya berkumpul membahas tema apa yang akan
kami gaungkan untuk memperingati Hari Perempuan Sedunia, 8 Maret 2020.
Dari
bahasan kami siang itu, banyak hal yang kemudian menyadarkan gue bahwa tidak
semua perempuan yang di dalam rumahnya diperkenalkan kepada kesetaraan. Tidak semua
perempuan memiliki orang-orang dekat disekitarnya yang memberi pengertian bahwa
gender mereka bukan penghalang untuk mereka melakukan apapun yang ia inginkan. Tidak
semua perempuan mendapatkan
pengetahuan tentang kesehatan reproduksinya. Tidak semua
perempuan mendapatkan haknya untuk mengakses pendidikan. Tidak semua perempuan
memiliki guru di sekolah yang menghargai anak didiknya tanpa membandingkan
antara pria dan wanita. Tidak semua pekerja perempuan dibayar sesuai dengan
pekerjaannya. Tidak semua perempuan memiliki rekan kerja yang memahami
kesetaraan dan saling menghargai tanpa melihat gender. Tidak semua pekerja
perempuan memiliki bos atau pimpinan yang memberlakukan karyawannya secara sama
tanpa membandingkan gender, dsb.
Perbincangan
kami siang itu juga menyadarkan gue bahwa ketimpangan gender antara laki-laki
dan perempuan masih sangatlah tinggi. Belum lagi di data BPS yang menunjukkan bahwa
jumlah kekerasan terhadap perempuan cenderung meningkat. Menurut data BPS, pada
2018 ada 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan. Jumlah itu meningkat
dibandingkan tahun sebelumnya (2017) yakni 348.446 kasus. Dan masih banyak
cerita lain yang gue juga baru tahu, misalnya bagaimana kesenjangan upah antara
perempuan dan laki-laki yang semakin tinggi.
Masih banyak
cerita lain yang mungkin gue belum tahu, atau mungkin karena selama ini gue
yang terlalu acuh karena gue terlalu lama hidup dengan privilese yang gue punya.
Komentar
Posting Komentar